Review Film Inside Out

Inside Poster

“Our Life is controlled by our emotions” entah kapan dan siapa yang bilang, aku lupa hehe *tepok jidat* tapi kalimat tadi sangat detail dan apik digambarkan dalam sebuah film. Yak, film tersebut adalah Inside Out , sebuah film animasi garapan Pixar yang sudah rilis di amerika sejak 19 juni 2015 dan tayang di Indonesia sejak 19 Agustus 2019. Pixar sendiri dikenal sebagai studio animasi yang menghasilkan film-film bermutu, sebut saja Up, Wall-E, Cars 2, Toy Story dan masih banyak yang lainnya. Film ini disutradarai oleh Pete Docter dimana sebelumnya dia juga sukses dengan profesi yang sama dalam film Up. Keren banget nih orang! saingannya Christhoper Nolan kali yee? *oke skip aja bagian ini* 😀 Mungkin saya cukup terlambat dalam me review film ini, karena di rentetan sinema bioskop yang tayang sekarang sudah tidak ada, namun saya sangat merekemondasikan film ini untuk ditonton. Dan, “ada alasan dong kenapa film ini sangat layak tonton?” Nah berikut ini adalah beberapa uraian yang mungkin bisa menjawab:

Pertama: Kritik Positif untuk Film Inside Out untuk meyakinkan teman-teman kenapa film ini sangat bagus dan harus ditonton. Kita baca pendapat para ahli kritik film dari media daring ternama dunia, bagian ini saya mengutip beberapa kritikan positif mereka dari situs rappler.com diantaranya adalah:

The York TimesInside Out  adalah pencapaian tertinggi visual Pixar, menurut AO Scott, dan dapat disandingkan dengan Finding Nemo dan Wall E. Namun, kehebatan visual Inside Out  ditampikan dengan lebih halus dan impresif, terutama dari representasi konsep-konsepnya. “Inside Out  adalah hiburan luar biasa – lucu, menawan, cepat bergerak, dan penuh kejutan,” tulis AO. Orang dari berbagai umur akan menemukan sesuatu yang berhubungan dirinya, anak-anak akan terhibur, dan orang dewasa akan berlinang air mata” –  “bukan karena kesedihan, tapi karena bersyukur dan melihat dirinya sendiri.”

The Guardian – Kritikus The Guardian Jonathan Romney memuji film ini dengan nilai 5 bintang. Menurut Jonathan, akhirnya Pixar berhasil menelurkan salah satu film terbaiknya, terutama setelah rentetan film biasa-biasa saja yang dikeluarkannya semenjak Up (2009). “Inside Out  berada di jejeran produksi terbaik Pixar dengan kombinasi keberanian, Kecerdasan dan sisi emosional, “ tulisnya. Tampilan visual dan lelucon yang dihadirkan juga tidak mengecewakan.

Wow! It’s kind of amazing story kan? Selengkapnya untuk kritikan tentang film Inside Out  bisa dilihat pada rappler.com. Mungkin bagi teman-teman yang belum menonton masih penasaran dan bertanya masak iya sebagus itu? Oke, ada baiknya saya akan jelaskan cerita yang ada pada Inside Out.

Kedua: Setting Cerita Yang Keren Setting film ini banyak berkutat pada pikiran satu tokoh gadis belia yang bernama Riley Andersen (Kaitlyn Dias) kelahiran Minesota, dimana didalam pikiran Riley ada emosi yang dipersonifikasikan menjadi 5 bentuk karakter bernama Joy (Amy Pohler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Harder), Anger (Lewis Black) dan Disgust (Mindy Kaling). Kelima karakter ini tinggal dan mengontrol pikiran sadar riley dalam sebuah konsol. Dalam Inside Out memori atau kenangan digambarkan dalam bola berwarna, bentuknya seperti bola bowling, bola kenangan akan berwarna sesuai emosi didalam kenangan yang direkam, emosi Joy berwana kuning cerah, Sadness biru, Anger merah, Fear ungu sedangkan Disgust hijau, Namun ada bola kenangan yang paling penting dinamakan “core” atau inti dimana bola ini berisi kenangan yang langsung terhubung menuju pulau kenangan yang mencerminkan kepribadian Riley. Pulau kenangan yang tercipta pada Riley di usianya yang ke 11 itu ada 5, yakni pulau keluarga (family island), pulau kejujuran (honesty island), pulau hockey (hockey island), pulau persahabatan (friendship island), dan pulau wajah konyol (Goofball Island).

Island of Personality

Awalnya Riley adalah gadis belia yang riang, ceria dan baik, bahkan punya daya imajinasi yang bagus, namun keadaan berubah ketika Riley harus ikut pindah dari Minnesota ke San Francisco bersama keluarganya, ini dikarenakan ayahnya mendapatkan pekerjaan baru. Dari sinilah Riley merasakan rumah barunya tak bernyawa, dan barang-barang dari rumah lamanya masih berada dalam truk yang tersesat di suatu tempat di kota Texas. Melihat kondisi Riley yang sedih membuat Joy berencana untuk membuatnya kembali ceria. Namun usaha Joy terhalang ketika Sadness mulai menyentuh bola kenangan, dan menyebabkan bola kenangan berubah biru (sedih), keadaan ini memaksa Joy mengisolasi Sadness di ruang baca dan memintanya untuk melakukan kesibukan lain supaya hal ceroboh lain tidak terulang.

Namun, pada hari pertama Riley di sekolah barunya, Sadness justru kembali berulah dan menyebabkan Riley menangis di depan kelasnya, kejadian ini menciptakan kenangan inti sedih. Joy mencoba untuk membuang kenangan inti baru tersebut sebelum mencapai hub pusat, usaha Joy ini membuat emosi keseluruhan tidak stabil. Joy dan Sadness terlibat dalam perdebatan pendapat dan berebut bola kenangan inti dan menjadikan mereka tersedot keluar dari Markas melalui tabung memori yang mengarah ke sisa pikiran Riley. Mereka berakhir di tempat penyimpanan labirin kenangan jangka panjang (Long Term Memory).

Angry, Disgust, dan Fear berupaya untuk memperbaiki kondisi emosional Riley, tapi secara tidak sengaja malah menjauhkan Riley dari orangtuanya, teman-teman, dan hobi, sehingga pulau kepribadiannya perlahan runtuh dan jatuh ke dalam Dump Memory, sebuah jurang di mana kenangan memudar dibuang dan dilupakan. Angry menyisipkan ide untuk melarikan diri ke Minnesota melalui konsol kontrol. Sementara itu, Joy dan Sadness menemukan Bing Bong, teman imajiner Riley. Bing Bong  memberitahukan bahwa cara untuk bisa ke Mabes adalah dengan ikut serta dalam kereta pemikiran.

Joy, Sadness & Bing Bong

Dalam waktu bersamaan Riley sudah bersiap untuk naik bus menuju Minnesota, Joy mencoba untuk menggunakan “recall tabung” untuk kembali ke Markas, tapi disatu sisi pulau kepribadian terakhir jatuh dan menybabkan Joy dan Bing Bong jatuh ke Dump Memory. Ketika keadaan mulai menyebabkan Joy putus asa, dia melihat melalui kenangan lama, Joy akhirnya sadar bahwa sebuah memori yang menyedihkan dalam hidup Riley bisa menjadikan bahagia ketika orangtuanya dan teman-teman datang untuk menghiburnya dalam sebuah cerita kekalahan Riley di permainan hoki, Joy juga menyadari bahwa unsur Sadness sangat penting untuk mengingatkan bahwa orang sedih  membutuhkan bantuan.

Joy dan Bing Bong mencoba untuk menggunakan roket untuk bisa keluar dari Dump Memory, tapi setelah beberapa kali gagal, Bing Bong menyadari berat badan gabungan mereka yang terlalu banyak, sehingga ketika diusaha yang terakhir Bing Bong hanya mendorong Joy untuk bisa naik keatas, dan Bing Bong sendiri merelakan dirinya tertinggal di Dump Memory. Joy menggunakan berbagai alat dari Imajinasi untuk mendorong dirinya sendiri dan Sadness ke Mabes. Ketika mereka berhasil dibantu Anger yang memecahkan kaca agar Joy dan Sadness bisa masuk Markas, keadaan makin genting, hingga atas desakan Joy, Sadness mengambil kendali dan mengaktifkan konsol dan berusaha mendorong Riley untuk kembali ke rumah.

Yang dilakukan Sadness adalah mensetting ulang kenangan inti, dan efek dari tindakan ini adalah Riley kembali ke rumah dan menangis, Riley menyampaikan kesedihannya kepada orangtuanya bahwa dia merindukan kehidupan lamanya. Sebagai orang tua mereka berusaha untuk membuat nyaman Riley dan meyakinkannya, Joy dan Sadness bekerja sama dan menciptakan bola kenangan inti baru, bola kenangan gabungan yang baru ini menciptakan sebuah pulau kepribadian baru pula. Setahun kemudian, Riley sudah bisa beradaptasi dengan rumah barunya. Cerita berlanjut dengan adanya upgrade konsol kontrol pada Markas, hal ini disesuaikan dengan usia dewasanya Riley secara emosional, dan ini membuat mereka bekerja sama untuk membantu mengisi kehidupan Riley yang lebih, kondisi ini berlanjut dan membuat pulau-pulau kepribadian Riley bertambah .

Ketiga: Cerdas Mengendalikan Emosi

Kalo ada yang bilang “film ini dikemas dengan cerita yang cerdas”. Aku setuju banget. Bagaimana tidak? Film ini bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana sesorang bisa menghadapi masalahnya dengan kendali dari emosinya sendiri.

Keempat [Terakhir]: Rencana dan Tindakan Mari rangkai ceritamu dan buatlah itu menjadi kenangan baikmu untuk membuat pulau kepribadian yang kamu inginkan oleh Afif Mas’udi Ihwan (@wedangteh)

Review Film Inside Out
Tagged on:                 

2 thoughts on “Review Film Inside Out

  • 17 September, 2015 at 12:51 PM
    Permalink

    Fix! Sudah kayak novel. Jadi dimana saya bisa nonton film ini kalau sudah tak tayang biskoyop? :(

    Reply
    • 17 September, 2015 at 1:15 PM
      Permalink

      hahaha nganu kalo itu amannya sih beli cd maupun dvd nya, nah kalo online tau sendirilah…hihihi *ngikik setan*

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *