Obrolan Sewaktu Mondok

Sumber: www.mukatamarnu.com

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi kami bertiga aku, cak dan kang jirji masih terjaga dan masih asyik terlibat dalam obrolan tentang cerita-cerita sewaktu masih di pondok. Ada beberapa cerita konyol sedih bahkan terdengar aneh yang pernah kami alami. Dan inilah beberapa hal yang aku masih ingat dalam cerita yang aku sampaikan malam tadi:

  1. Menjadi Terkenal Di Alam Lain

Bermula dari rencana Gus Faris (Gus: panggilan untuk putra para kyai) yang akan melakukan silaturahim ke kediri, karena beliau berangkatnya sekitar jam 12 malam hari dari ponorogo, beliau memanggil saya dan meminta saya untuk menemani beliau selama perjalanan, karena ditakutkan nanti bisa mengantuk jika tidak ada teman ngobrol, saya langsung menjawab “njih Gus”. Sewaktu dalam perjalanan tidak ada yang banyak kami obrolkan, namun tiba-tiba Gus Faris ngendikan (baca: berkata) “alfatihah” saya langsung melaksanan perintah beliau untuk melafalkan surat fatihah dengan setengah tidak yakin, dalam batin“tadi bener nggak ya Gusnya ngendikan?” perjalanan masih berlanjut, dan tiba-tiba Gus Faris mengatakan yang pada intinya masih saya ingat adalah “kita tidak harus terkenal di dunia ini, tapi kita bisa terkenal dan selalu diharapkan kedatangan kita dengan cara menyampaikan doa dan salam kepada para ahli kubur”.

  1. Tawasul fatihah untuk Phone Friend

Tepatnya setelah sampai di Kediri Gus Faris tidak langsung menuju kediaman beliau di Kadilangu, namun Gus Faris mampir ke salah temannya (saya lupa nama Gus-nya), tapi karena jarak tempuh dari ponorogo ke kediri sekitar 2,5 jam, dan kami tiba di kediri masih kepagian, akhirnya beliau coba telpon sekali ke no. temannya itu namun tiada respon, dan setelah itu Gus Faris membaca surat fatihah dalam suara sirih (tawasul), dan tak berselang lama temannya bangun,  menelepon Gus Faris dan keluar menemui kami.

  1. Memohon Doa Kyai Untuk Menghentikan Hujan Sementara

Saya pernah ditunjuk menjadi ketua acara pengajian di pondok dalam rangkaian acara haul kyai Toyib pendiri desa Joresan dan sekaligus pondok pesantren Darul Hikam, namun karena sedari siang hujan deras dan tak kunjung reda hingga sore, saya dipanggil para Gus (Gus Riza, Gus Nabil dan Gus Faris). Ketika saya sampai ndalem (baca: rumah Kyai) saya diminta untuk datang ke kyai Usman (Taman Keputren Joresan Lor), dan menyampaikan pesan dari para Gus untuk memohonkan doa agar hujannya bisa dihentikan sementara waktu selama acara pengajian nanti malam berlangsung, sayapun menjawab “njih Gus”, lagi-lagi saya bimbang “bener nggak ya permintaan nya para Gus ini?” namun karena ini adalah bagian dari amanah yang harus saya jalankan saja, dan mungkin ini rada terdengar aneh, tapi saya tetap jalankan perintah beliau para Gus, hujan memang tidak sederas hujan tadi siang, dan meski juga masih ada rintikan gerimis, pengajian alhamdulillah malam itu lancar dan cukup ramai.

  1. Sering didukani kyai

Ini yang mungkin sangat saya ingat di pondok joresan (baca: Pondok Hikam) adalah seringnya didukani (baca: dimarahi) Kyai Nurul Hamdi bukan karena nakal kebangetan. Tapi kerenaa… *lanjutkan baca aja ya… hehe Jadi ini karena banyaknya koreksi salah dalam pembacaan kitab kuning, “piye tho kok salah terus?” ngendikae kyai Hamdi waktu itu. Dan karena saking parahnya kesalahan bacaan saya, Kyai Hamdi sampai kewalahan mengajari saya dan meminta bantuan teman yang sama-sama waktu itu ikut mengaji untuk mengoreksi bacaan saya, kemudian saya mbatin “dedel banget tho otekku”  dan ini tidak berlangsung sekali, banyak kalii! hmm.. Mungkin saya memang jarang latihan membaca sih waktu itu #Ahlesyan Dan setidaknya Kyai Hamdi nanti bisa mudah mengingat saya jika nanti saya sowan ke ndalemnya beliau ngendikan “oo iki afif sing kae tho? Sing angel banget diajari moco kitab” hehe “njih nyuwun doa pangestune mawon kyai” kataku #ngarep

Ya.. sebenernya masih banyak sih yang ingin saya share tapi karena kemampuan mata yang sudah berat untuk tetap terbelalak (((terbelalak))) saya harus menyudahi tulisan ini, InysaAlloh next time bisa kembali share pengalaman dan cerita sewaktu masih pake sarung dan kopyak kemana-mana 😀 O ya.. kalo rencang-rencang punya cerita mengenai dunia kaum bersarung monggo bisa komen dibawah…suwun.

Obrolan Sewaktu Mondok
Tagged on:     

2 thoughts on “Obrolan Sewaktu Mondok

  • 18 April, 2016 at 2:21 PM
    Permalink

    dulu, saya 6tahun tinggal di asrama tapi gak bersarung..
    kemana-mana pakenya celana panjang.. iya panjang, gak cingkrang lho.. #eh

    Reply
    • 18 April, 2016 at 3:05 PM
      Permalink

      Kamu asramanya sudah terlalu modern og el, mandinya pasti ada mode air dingin sama panas ya? 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *