Mengenal 4 Pilar MPR RI Dan Kritik Terselubung

Sumber gambar: mpr.go.id

Sebenernya apa sih bedanya 4 pilar MPR RI dan 4 pilar berbangsa dan bernegara? Padahal isinya sama lho. Melalui acara ngobrol bareng MPR RI bersama Netizen Semarang pada hari sabtu (16/09/2017) kemaren, saya jadi tahu bahwa istilah yang mulanya 4 pilar berbangsa dan bernegara itu pernah digugat oleh Masyarakat Pengawal Pancasila Jogja, Solo, Semarang (MPP Joglosemar) dan akhirnya melalui sidang putusan MK menghapus istilah tersebut dan kini berubah istilah menjadi 4 Pilar MPR RI (sumber: http://news.metrotvnews.com/read/2014/04/03/226391/mk-hapus-istilah-4-pilar-berbangsa-dan-bernegara).

Acara sosialisasi bertemakan “Netizen Semarang ngobrol bareng MPR RI” harusnya judulnya dibalik sih 😛 ini digelar di Hotel Grandika Jl. Pemuda Semarang pada sabtu 16 September 2017. Sejumlah 50 warga net menghadiri acara ini. Dari MPR RI menghadirkan 3 pembicara yakni, Sesjen MPR RI Ma’ruf Cahyono, Badan Pengkajian MPRI RI Bambang Sadono, dan kepala Biro Humas MPR RI Siti Fauziah. Pada intinya arahan dari Pak Sesjen adalah agar warga net turut untuk mensosialisasi 4 pilar MPR RI kepada komunitas ataupun masyarakat sekitarnya melalui media digital yang dikelolanya, sedangkan Pak Bambang Sadono mengingatkan kembali tentang pentingnya kehati-hatian mengelola media sosial, Sedangkan untuk Bu Siti saya berasumsi beliaulah ketua acara sabtu kamaren, karena beliaulah yang mengawali sambutan hahaha #apasih

Jadi apa saja 4 Pilar MPR RI? Pilar nomor satu adalah Pancasila. Menyinggung masalah gugat istilah 4 pilar kebangsaan pada UU nomor 2 tahun 2011, adalah pada pilar pertama ini, karena menurut sebagian masyarakat, Pancasila itu bukan pilar tapi fondasi yang menjadi ideologi dasar bagi bangsa Indonesia. Etapi bener juga sih..fondasi kok bisa jadi pilar?. Sependapat dengan apa yang sampaikan Pak Sesjen “berdebat masalah ini menghabiskan waktu dan tenaga”. Menurut saya istilah 4 pilar itu untuk mempermudah masyarakat dalam penyebutan 4 hal fundamen dari negara yang setiap warganya berkomitmen untuk menjaga rumah bersama ini, INDONESIA. Lanjut Pilar kedua adalah UUD RI 1945. Pilar kedua ini sebagai landasan konstitusional bangsa yang menjadi dasar bagi peraturan perundang-undangan lainnya. Ketiga adalah NKRI. NKRI HARGA MATI BOS! Keempat Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan itu harusnya disyukuri sebagai kekayaan yang harus dijaga.Saya jadi ingat pada obrolan di warung kopi “apa-apa kok kofar-kafir, senggol dikit bacok.. hambok belajar lagi PPKN kembali, Apa itu Tenggang Rasa, Toleransi dan Tepo Sliro”.

Saya pribadi belum menemukan unsur hilangnya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan masyarakat indonesia yang di wujudkan dalam sebuah jurnal ilmiah, hanya dikatakan dari media ini dan itu, dikatakan dari bapak a dan ibu b, namun demikian dengan tidak menafikan kondisi sosial media terkini dan beberapa kasus yang timbul hanya berdasarkan pesan berantai, bahkan masih banyak para pejabat yang terjaring OTT KPK. Ya, saya ikutan miris! Akibat berkurangnya nilai-nilai pancasila?! Bisa jadi. Meskipun demikian saya rasa sosialisasi tentang 4 pilar ini memang patut untuk diapresiasi sebagai bentuk penyadaran kembali bahwa bangsa kita mempunyai pedoman berbangsa dan bernegara yang hakiki dan mendasar.

Dalam tulisan ini saya juga ingin mengkritik MPR RI sebagai lembaga tinggi negara dengan keanggotaan yang didominasi oleh DPR, tentang pentingnya kesadaran anggota dewan yang terhormat untuk hadir dalam persidangan yang berkaitan dengan persengketaaan dan masalah rakyat, sangat-sangat membuat prihatin. MPR RI sebagai penjelmaan masyarakat Indonesia harusnya turut mewakili rakyat yang telah memilihnya bukan malah sebaliknya, mangkir.

Melanjutkan masalah per-mangkiran ini saya jadi ingin menyampaikan bahwa “Pak, we need a role model!” yang memang turut menjalankan esensi 4 pilar dalam kehidupan nyata bukan hanya kewajiban sosialisasinya saja, mencontohkan kebaikan berdasarkan materi yang disosialisasikan itu keren Pak. Jadi pada intinya adalah judul tulisan ini semestinya Mengenal 4 Pilar MPR RI sebagai nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Tsaah..! Tidak hanya kenal tapi harus diimplementasikan. Selaku penulis InsyaAlloh habis ini kalo lampu kuning saya akan menurukan laju kecepatan berkendara dan lampu merah berhenti dibelakang zebra cross.

Last but not least, saya ingin menyuplik sebuah tulisan bagus dalam buku “Salah Kaprah” dikatakan bahwa ”great Britania rules the waves, Indonesia waves the rules”. Orang Britania dikenal dalam penegakan aturan, orang Indonesia sebaliknya: mengacaukan aturan. Sebagai orang yang pernah bertugas membacakan pembukaan UUD 45 pada hari senin, saya berharap itu tidak benar, hawong saya juga orang Indonesia:)))

Mengenal 4 Pilar MPR RI Dan Kritik Terselubung
Tagged on:             

6 thoughts on “Mengenal 4 Pilar MPR RI Dan Kritik Terselubung

    • 20 September, 2017 at 10:13 PM
      Permalink

      Fardhu ain mbak.. Wajib bagi setiap warganya

      Reply
  • 20 September, 2017 at 6:43 AM
    Permalink

    Saya juga orang Indonesia. Bener banget, para petinggi negara punya kewajiban untuk memberikan contoh kebaikan jika ingin masyarakatnya Pancasilais juga.

    Reply
  • 20 September, 2017 at 7:20 AM
    Permalink

    “apa-apa kok kofar-kafir, senggol dikit bacok.. hambok belajar lagi PPKN kembali, Apa itu Tenggang Rasa, Toleransi dan Tepo Sliro”. <== Ngekek bentar boleh ya… sambil baca-baca dan menghayati lagi arti tenggang rasa, toleransi dan tepo sliro :)

    Reply
    • 21 September, 2017 at 4:05 AM
      Permalink

      haha monggo mbak..segala kemudahan dalam pelajaran PPKN bertolak belakang dengan praktek di lapangan. tapi yang pasti kita warga yang taat hukum dan bernorma. *toss

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *