Ignition 1000 Startup Digital : Cara Bakar Semangat Membara ala Yansen Kamto

Yansen Kamto dalam Ignition 1000 Startup Digital Semarang (Sumber: @1000StartupID

Acara yang sudah saya tunggu beberapa menit setelah registrasi ini akhirnya dimulai oleh MC koplak yang saling lempar pisuhan dengan mas Gatot dan Yansen diwaktu mereka ngomong ngalur ngidul di stage, tapi eniwei ini lah yang bisa membuat senyum lebar para peserta ignition yang diklasifikasikan menjadi 3 bagian penting dalam sebuah perusahaan rintisan atau startup digital: hustler, hacker dan hipster.

Dalam bagian 3 bagian penting startup saya memilih hustler, kenapa? Karena basically saya punya pengalaman dialam marketing dan promotion, dan menurut ilmu cocokoli saya dalam kandungan ilmu marketing terdapat key skill analisis produk, dan pengembangan bisnis. Selanjutnya adalah adanya ide yang nancep di otak dan harus dikeluarkan dan dijalankan. Rasanya tak berlebihan jika saya menganggap jika ide yang akan saya jabarkan nantinya bila dieksekusi bisa menjadi sebuah perusahaan yang bisa berkembang dan bukan hanya rintisan.

Oya ngomongin tentang ide saya ingat pada sesinya Yanto aka Yansen Kamto :D, meski dia banyak mengobral rayuan pada MC centil namun tak lupa dia juga melemparkan “kompor” semangat kepada peserta ignition dengan pernyataannya bahwa “bikin startup itu untuk memecahkan masalah bukan untuk diinvest”. Nah! Lantas masalah apa yang saya temukan dan bagaimana tawaran solusi dari saya? Yuk lanjutkan bacanya..

Menurut pandangan saya *benerin kacamata* melihat perkembangan ecommerce saat ini dengan bertambahnya marketplace yang makin bejibun dengan berbagai macam fitur unggulannya yang mutakhir, saya merasa ada keribetan yang saya alami jika mau jualan, Kenapa? Karena jika ditelusuri dengan keyword tertentu  banyak yang jualan produk yang sama dengan pelapak yang berbeda. Padahal menurut saya banyak produk yang berasal dari berbagai macam produsen ataupun UMKM yang belum dikenal ataupun yang lebih mirisnya belum online. Jadi buka pada registrasi dan openlapak namun produk apa sajakah yang akan saya upload dan jual.

Untuk saat ini para reseller maupun dropshipper yang mau jualan akan menghubungi masing-masing produsennya dan menurut saya ini kurang efektif dan bagian dari masalah yang harus diselesaikan. Lantas solusi yang saya tawarkan untuk masalah ini adalah website hub untuk seluruh produk dari produsen atau UMKM yang mempertemukan dengan agen pemasaran online. Jasa utamanya sebenernya adalah pada upload produk karena fokus utamanya adalah makin banyak produk yang online. Tujuan saya sederhana, yakni produsen biarlah fokus pada kualitasnya sedangkan pemasaran serahkan kepada website yang saya buat ini. Keknya sederhana tapi harus ada usaha lebih supaya para UMKM mau menggunakana jasa upload produk ini.

Kira-kira begitulah gambaran dari usulan ide yang saya ajukan pada 1000 startup di Semarang. Namun ide hanyalah ide jika tidak dilaksanakan, “ide adalah sampah maka buanglah pada tempatnya” tukas @dausgonia. Sekian sharing ide dari saya, yang jelas dalam acara ignition ini banyak “kompor” yang disodorkan kepada peserta sebagai pembakar semangat mewujudkan ide dan gagasan menjadi nyata dan bermanfaat bagi sesama. Dan semua ini dimulai dari kepala plontos dan yang mengklaim dirinya nggemesin, tapi celananya saja haha… Thanks YANTO aka Yansen Kamto dan seluruh para pembicara pada acara Ignition #1000StartupDigital. Senada dengan Dausgonia saya tutup tulisan ini dengan mengutip kalimat dari Alamanda yang mungil bahwa “idea is cheap, execution is key”. 😀

nb: foto sama alamanda menyusul :p

Ignition 1000 Startup Digital : Cara Bakar Semangat Membara ala Yansen Kamto

4 thoughts on “Ignition 1000 Startup Digital : Cara Bakar Semangat Membara ala Yansen Kamto

  • 21 November, 2016 at 4:42 PM
    Permalink

    bedanya dengan marketplace yang sudah ada apa dong?
    eh sori kalo bacaku kecepeten :)))

    Reply
    • 21 November, 2016 at 5:23 PM
      Permalink

      hahaha barusan ada edit sana-sini bro 😀 sebenernya fokusnya adalah jasa upload produk pada marketplace yang sudah ada bukan menciptakan marketplace baru.

      Reply
  • 22 November, 2016 at 12:00 AM
    Permalink

    Terimakasih mas afif buat sharing pengalamannya. Btw saya punya satu pemikiran yang sama terkait UMKM cuma saya berfokus pada permasalahan keuangan. Nice sharing !

    Reply
    • 22 November, 2016 at 7:33 AM
      Permalink

      Halo Diestra :), wah bagus ayo wujudkan idenya. kemaren ketemu dengan pelaku umkm langsung dan mereka juga punya pemikiran yang hampir sama denganmu, bahwa masih banyak umkm yang butuh bantuan untuk menangani masalah keuangannya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *